Selasa, 23 April 2013

Prasasti Islam yang Tertua di Dunia Melayu?



Ludvik Kalus


Inskripsi pada batu nisan Fatima bint Maymun, yang ditemukan di Leran (Jawa) dan bertanggal 475 H, adalah prasasti Arab yang umumnya dianggap sebagai yang tertua yang pernah ditemukan di Indonesia. Meskipun kini tempat nisan itu ditemukan (atau pernah ditemukan dahulu) telah menjadi suatu tujuan ziarah (sedangkan nisan itu sendiri sudah beberapa bulan lalu dipindahkan ke museum Trowulan), rupanya inskripsi tersebut harus dipandang sebagai barang impor ke alam Indonesia. Sebuah benda lain, yang sangat berbeda jenisnya, yang tidak bertanggal dan mungkin sama-sama merupakan barang impor, barangkali saja lebih kuno.

Benda itu adalah sebuah cap-jimat yang ditemukan di Barus (Sumatra) oleh suatu tim arkeologi Indonesia-Prancis pada tahun 1997, waktu diadakan penggalian di situ. Cap-jimat itu ditemukan di situs Lobu Tua, di luar kerangka stratigrafi. Situs itu sendiri diketahui berasal dari periode pertengahan kedua abad ke-9 M sampai abad ke-11 M, tetapi sukar diketahui bagaimana benda kecil di atas (yang kiranya kehilangan oleh si pemiliknya) dapat ditentukan masanya. Patut dicatat lebih dahulu bahwa inilah cap-jimat Islam kuno yang pertama ditemukan di Indonesia.

Deskripsinya sederhana saja. Cap-jimat itu dibuat dari kaca tembus-lihat berwarna hijau tua, berbentuk lonjong, dengan pinggir bawahnya berlekuk. Ukurannya 15 mm panjang, 13 mm lebar, dan 3 mm tebal. Di sisi bawah terdapat sebuah inskripsi dua baris dalam bahasa Arab berupa relief timbul. Di baris pertama terbaca “Allah” dengan tulisan hias di mana ruang di antara kedua huruf  lam terisi dengan tiga garis mendatar ditambah sebuah lingkaran kecil di atasnya. Alif awal kata itu berbentuk semacam mata kail (yang menyebabkan kata itu dapat juga dibaca “bi-llah”), sedangkan ha akhir berbentuk garis pendek tegak yang terbelah. Baris kedua berisi kata “Muhammad” yang ditulis dengan gaya tulisan bersudut sederhana. Maka inskripsi itu berbunyi “Allah, Muhammad” atau kemungkinan lain “Demi Allah, Muhammad” yang memang sangat bersahaja.

Tulisan itu terbalik, maka benda itu jelas sebuah cap. Namun oleh karena isinya dan oleh karena inskripsi itu dapat juga dibaca (dari sisi atas) dalam urutan huruf yang sebenarnya karena bahannya tembus-pandang, maka boleh diduga ia juga mempunyai fungsi kedua sebagai jimat. Benda itu sejenis aji-aji yang biasa di bawa dalam saku.

Menentukan masa dan daerah asal benda itu sangat sulit dibandingkan bentuk sederhananya, atau justru sangat sulit karena begitu sederhana. Penentuan masa sebuah cap umumnya tidak mudah, dan lebih susah lagi, bahkan kadang kala mustahil, dalam hal cap yang tidak ada linglungannya, seperti cap dari Lobu Tua itu. Boleh dipertanyakan apakah seumur dengan situs tersebut. Sedangkan mengenai daerah asalnya, dapat langsung dikatakan barang impor karena pembuatan kaca tidak mempunyai tradisi lama di Indonesia.

Sifat teks yang sangat sederhana tersebut mirip dengan isi cap-cap sebelum periode Mughal, bahkan sebelum periode Saljuk, namun ini baru suatu petunjuk, bukan bukti. Bentuk lonjong dan pinggir bawah berlekuk cukup umum pada periode tersebut. Sebenarnya umum juga pada zaman modern tapi dengan ukuran biasanya lebih besar. Selain itu dapat dikemukakan bahwa cap periode “klasik” dibuat terutama dari berbagai batu permata, sedangkan cap dari kaca jarang ditemukan sebelum zaman modern, tetapi di Indonesia boleh saja sebuah benda kaca lebih dipandang daripada batu permata. Kata “Allah” sering ditulis secara berhias dalam inskripsi Arab dan demikianlah halnya cap Lobu Tua ini, namun kami tidak berhasil menemukan inskripsi yang serupa di antara sekitar 1500 cap dan jimat Islam kuno yang pernah kami pelajari. Mengenai tulisannya, sejauh dapat dianalisa dalam inskripsi sesingkat itu dapat saja berasal dari periode diatas, lebih tepat dari pertengahan keduanya.

Sebagai kesimpulan pembahasan tersebut, cap Lobu Tua diperkirakan berasal dari abad ke-10-ke-11 M, sedangkan daerah asalnya jelas harus dicari di luar Indonesia. Mengingat berbagai hubungan niaga pelabuhan Barus pada masa yang bersangkutan, maka Iran dan terutama Khurasan harus dipertimbangkan karena waktu itu kaca sudah lama sekali dibuat di daerah tersebut.

Dengan demikian, mungkin saja cap itu merupakan benda Islam yang tertua yang pernah ditemukan di Indonesia, meskipun kita harus sangat hati-hati dalam hal ini. Sebagai benda sederhana yang sulit lagi rumit interpretasinya, cap itu sesuai sekali dengan situs penemuannya, dimana begitu banyak pertanyaan lain dari dulu tidak terjawab (tetapi mudah-mudahan akan terpecahkan di masa depan).



Claude Guillot dan Ludvik Kalus, 2008
Laddy Lesmana, dkk (Penerj.)
 Inskripsi Islam Tertua di Indonesia
Jakarta: KPG bekerjasama dengan EFEO Indonesia dan Forum Jakarta-Prancis
Hlm: 33-36 

Senin, 22 April 2013

Interpretasi Prasasti



Machi Suhadi


Kajian Prasasti

Prasasti dari bahan apapun termasuk golongan artefak. Sebagai artefak, prasasti juga menyimpan peran dan fungsi khusus sehingga interpretasinya dapat dibatasi pada beberapa hal seperti bahan, tempat asal dan teksnya. Prasasti berasal dari jaman sejarah dimana manusia sudah berada pada tahapan literate culture sehingga kronologi historisnya dapat diketahui dengan pasti, paling tidak dalam hitungan abad. Analisis bahan prasasti dan pembuatannya tidak lagi menjadi perhatian para peneliti epigrafi. Kajian tentang prasasti lebih diarahkan kepada teks yang menyangkut pembacaan, transkripsi ke aksara Latin, terjemahan dan usaha memahami misi apa yang dikandung dalam teks prasasti. Adapun ekofak yang diperhatikan ialah hubungan antara isi prasasti dengan tempat temuan prasasti, dengan masyarakat sekitarnya, dan lain-lain, apakah ini cocok atau tidak cocok. Jika hubungan itu tidak cocok, apakah telah terjadi perubahan antara tempat asal prasasti dengan tempat temuan sekarang, atau memang telah terjadi perubahan nama secara administratif setelah peristiwa bersejarah itu berselang ratusan atau ribuan tahun. Semua ini harus dikaji dengan teliti dan saksama serta hati-hati.


Hambatan dalam Kajian Epigrafi

Dalam kajian epigrafi ada dua jenis kegiatan yang dapat disatukan atau dapat dipisahkan. Kegiatan pertama ialah melakukan pembacaan, membuat transliterasi atau transkripsi ke aksara Latin dan membuat terjemahan dari bahasa Kuno ke bahasa sekarang. Kedua, pekerjaan lanjutan berupa pembuatan interpretasi sosial budaya dan menempatkan kronologi historisnya. Kebanyakan orang memilih menjadi interpreter, jadi menunggu hasil transkripsi dan terjemahan orang lain. Pekerjaan pertama termasuk sulit karena orang harus menguasai bentuk-bentuk aksara kuno dan mengetahui bahasa-bahasa kuna.

Berbagai hambatan yang dihadapi epigraf adalah:

  1. Tulisan atau aksara tidak jelas karena aus, rusak atau hilang. Jika bagian kata atau kalimat yang rusak/hilang adalah kata atau kalimat kunci, maka setiap kesalahan pembacaan akan mengakibatkan kesalahan pengertian.
  2. Bahasa kuna tidak mengenal tata kalimat (sintaksis) dan pemenggalan antarkata tidak jelas. Jika pemenggalan kata pada transkripsi salah, maka artinya akan berubah. Selain itu kata-kata dalam prasasti dapat ditafsirkan secara harafiah dan secara simbolik. Contoh: korban ggo sahasra pada prasasti Kutai (abad ke-5 M) dapat ditafsirkan sebagai jumlah 1000 ekor sapi dan dapat pula diartikan secara simbolik untuk menyatakan jumlah yang besar.
  3. Bahan prasasti. Jika bahannya keras akan mudah dikenali jika bahannya lunak (seperti lontar atau kulit kayu) maka hal itu sulit diidentifikasi.
  4. Keaslian sumber. Semua prasasti yang ada biasanya dinyatakan sebagai barang asli kecuali ada kata-kata “tinulad” (disalin”. Tetapi apakah yang dianggap asli itu memang benar-benar asli? Sebagai contoh, di kantor Pusat Arkeologi dan di Museum Nasional ada satu lempeng prasasti Mula Malurung (tahun 1255 M) yang pemenggalan kalimatnya berbeda. Diduga bahwa dahulu prasasti dalam wujud lontar disalin ke dalam lempeng tembaga oleh lebih dari satu orang sehingga hasil pahatannya berbeda. Atau prasasti tembaga yang ada disalin lagi pada waktu yang lain sehingga hasilnya berbeda.
  5. Tenaga peneliti. Saat ini jumlah tenaga pembaca prasasti sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah prasasti yang ada dan tersebar di Sumatra, Jawa, Bali, kalimantan hingga ke pulau Sumbawa.


Analisis Prasasti

Prasasti sebagai bagian dari sumber tertulis dapat dianalisa dari jenis sumber, manfaat sumber, permasalahan, pengerjaan dan cara analisisnya. Rincian hal tersebut berikut:

Jenis sumber tertulis
Prasasti
Naskah
Arsip
Dan lain-lain (medalion, uang, kaligrafi, hiasan)

Manfaat sumber tertulis
Sumber keterangan
Sumber rujukan

Permasalahan
Ketidakjelasan
Aksara dan bahasa
Bahan
Keaslian
Tenaga

Pengerjaan
Linguistis
Filologis
Epigrafis
Orthografis/palaeografi

Cara analisa
  • Formal:

Deskriptif
Komparatif

  • Konstekstual:

Identifikasi
Interpretasi

  • Fungsional:

Tujuan penulisan
Tempat penulisan
Pelaku penulisan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcNVAzZyLVYErwGpT3VRcEVPrnlYiO_eDBJauVHvUMCZutqBopS8u9NcrdNdI3-3RhDd9D-17UIMRu8Mj1iPnVAIDSwGlvsIx9aR5C7X9JcdFfWTDaKVjh2rTwYYmw4DUDftdElUSVJU8/s1600/Prasasti+Sipater.jpg


Interpretasi Prasasti

Epigrafi menggarap semua unsur yang berkait dengan prasasti, baik bahannya, tempat asal, tulisan, sosial budaya masyarakat sekitar, dan lain-lain. Interpretasi adalah usaha untuk mencari hubungan (benang merah) antara apa yang tertulis dan apa yang tersirat dengan hal-hal yang terjadi di lingkungan masyarakat yang sezaman yang diduga memiliki konotasi dengan isi prasasti tersebut. Peristiwa sejarah yang terjadi disekitar wilayah kekuasaan, tempat prasasti ditempatkan, sering menjadu unsur penentu untuk menarik benang merah tersebut.

Contoh:
Pada tahun 1286 M, Raja Kertanegara dari Singhasari (Jawa Timur) mengirim arca Amoghapasha kepada Raja Tribhuwana Mauliwarmmadewa di Kerajaan Malayu dan diterima dengan sukacita oleh keluarga raja dan rakyat Malayu. Pada masa itu Kertanegara sedang bertentangan dengan Kublai-Khan dari Cina yang sedang melakukan ekspansi ke Asia Tenggara. Kita memberi tafsiran bahwa pengiriman arca Amoghapasha ke Tanah Malayu merupakan manuver politik Kertanegara untuk mencari dukungan raja Malayu. Usaha persatuan Nusantara ini nanti dilanjutkan oleh raja-raja Majapahit pada abad ke-14 M.

Interpretasi epigrafi dimulai setelah pekerjaan terjemahan selelsai disusun. Pekerjaan ini memerlukan semua unsur yang terkandung di dalam teks prasasti yang dihubungkan dengan segala sesuatu yang berada di luarnya. Interpretasi prasasti selalu mengikat lingkungan prasasti, khususnya masyarakat di zamannya ditambah lingkungan alam dan geopolitiknya. Peneliti epigraf juga melihat seluruh prasasti dari zaman yang terkait dan menelaah peristiwa-peristiwa lain yang terjadi dari zaman yang sama di lokasi yang berkait serta tradisi yang berlanjut ke masa kini. Karena itu kajian epigrafi sangat memerlukan kajian arkeososiologi dan arkeolinguistik. Kesulitannya juga ada, antara lain bahwa penulis atau penafsir prasasti berada pada zaman yang jauh atau berbeda dengan zaman saat prasasti dibuat. Untuk pekerjaan itu  memang diperlukan keberanian dalam menulis atau menyusun interpretasi, lebih-lebih jika masyarakat setempat mengeluarkan prasasti tersebut. Jadi pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-hati.





Machi Suhadi (2003)
"Interpretasi Epigrafi", dalam Cakrawala Epigrafi: Persembahan untuk Prof.Dr.Mundardjito, R.Cecep Eka Permana,dkk (Peny.), Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
Hlm: 127-134


Jumat, 19 April 2013

Beberapa Persoalan Tentang Sejarah Sriwijaya



O.W.Wolters

Kajian ini dibuat sebagai sumbangan untuk penelitian sejarah Nusantara bagian barat zaman awal. Kajian ini menggambarkan latar belakang ekonomi semasa kebangkitan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra tenggara pada pertengahan abad ke-7 M. Sriwijaya berperan penting dalam perdagangan Asia pada zaman pertengahan, selama lebih dari 500 tahun. Kemudian setelah sejarahnya dihidupkan kembali oleh para sejarawan modern, kerajaan ini menjadi terkenal dalam sejarah Indonesia, terutama di kalangan orang Indonesia. Mereka membanggakannya sebagai kekuatan laut yang besar dan kerajaan tertua dalam sejarah kebangsaan mereka.

Hal yang menarik tentang Kerajaan Sriwijaya adalah kemunculan dan perkembangannya yang tiba-tiba. Pedagang Cina, I-Tsing, merupakan orang pertama yang membuat catatan tentang kerajaan ini. Ia menceritakan pelayarannya pada 671 M dari Kanton ke Palembang, tempat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya waktu itu [1]. Dalam jangka waktu 24 tahun ketika I-Tsing berada di seberang laut, kerajaan itu sudah menjadi sangat kuat. Berdasarkan pengetahuannya tentang Indonesia yang diperolehnya sebelum kembali ke Cina pada 659 M, menurutnya Kedah di pantai barat Semenanjung Melayu selatan telah menjadi tanah jajahan Sriwijaya. Pada 775 M, kerajaan ini telah menjadi begitu terkenal sehingga penguasanya disebut “raja yang dipertuan dari Sriwijaya, raja tertinggi di antara semua raja di muka bumi [2].

Terdapat dua alasan bagi kajian ini, pertama sekalipun abad pertama dari sejarah Sriwijaya itu adalah abad yang paling kaya dengan dokumentasi dan merupakan satu-satunya abad yang diabadikan prasasti-prasasti Sriwijaya yang ada sekarang, yang dapat dikemukakan para sejarawan hanyalah sebuah gambaran tentang kekuasaan kerajaan ini pada masa itu. Sementara itu, pendapat-pendapat dan kebijakan-kebijakan para maharajanya tetap merupakan bahan yang tidak sahih. Alasan kedua adalah sebelum orang mengetahui lebih banyak tentang cara Sriwijaya berdagang pada permulaan pemerintahannya, kita tetap belum mengetahui latar belakang yang seharusnya untuk membuat tafsiran atas bukti yang ada dan sedikit tentang perdagangan negeri itu.

Untuk abad pertama sejarah Sriwijaya, seorang pengkaji memilih beberapa prasasti Melayu Kuno yang penting di Sumatra Selatan, khususnya Palembang dan Pulau Bangka. Prasasti-prasasti itu ditulis pada 682-686 M. Sebagai tambahan, kita dapat membaca karya I-Tsing, kemudian pada Hdin T’ang shu yang dihimpun pada pertengahan abad ke-11 dan terdapat pula rujukan dalam ensiklopedia Tse’fu yuan kuei dari awal abad ke-11 M tentang utusan-utusan ke Cina antara 702-742 M [3].

Dalam batas-batas yang sempit, sumber-sumber ini memberikan gambaran yang sangat konsisten tentang zaman awal Sriwijaya. Catatan-catatan I-Tsing dan ungkapan-ungkapan teknis dalam berbagai prasasti menunjukkan bahwa Raja Sriwijaya dipengaruhi kemungkinan besar agama Buddha Mahayana. Sriwijaya juga jelas memiliki banyak kapal; pada 672 M, I-Tsing berlayar dari Sriwijaya ke India dengan sebuah kapal milik seorang raja [4]. Sementara itu prasasti Kedukan Bukit dari Palembang bertahun 682 M menjelaskan suatu perjalanan yang menurut Prof.Coedes telah dilakukan raja sendiri [5]. Selain itu selama  bertahun-tahun terjadi perkembangan politik yang luar biasa. I-Tsing menuliskan bahwa Melayu di daerah Jambi di pantai tenggara Sumatra “sekarang Sriwijaya”.

Prasasti Kedukan Bukit
http://beritamusi.com/musi/berita/prasastisriwijaya.jpg


Satu petunjuk yang lebih pasti bahwa masa itu masa yang bergolak ada pada dalam prasasti-prasasti itu. Prasasti Telaga Batu yang tidak diketahui tahunnya dari Palembang, merupakan sumpah yang luar biasa panjangnya, diiringi dengan meminum “air kutukan”, yaitu air yang harus diminum oleh hamba raja untuk menjamin kepatuhan mereka [6]. Suatu bentuk singkatan dari sumpah itu terdapat dalam prasasti yang juga tidak bertahun, Karang Brahi, yang ditemukan dekat sebuah sungai di bagian tengah Sumatra selatan dan juga dalam Prasasti Kota Kapur yang ditulis pada 686 M dan dibuat di Pulau Bangka [7]. Prasasti Telaga Batu memaparkan daftar panjang tentang orang-orang yang berpotensi menjadi musuh atau mungkin musuh-musuh raja Sriwijaya yang sebenarnya, mulai dari “putra-putra raja” hingga tukang cuci dan budak-budak hamba. Selain itu, nahkoda-nahkoda dan pedagang juga dianggap berpotensi menjadi pengkhianat. Dalam prasasti Kota Kapur bertahun 686 M, disinggung juga soal peperangan yang akan dilakukan terhadap bhumi java yang belum tunduk pada kerajaan Sriwijaya, Dr. de Casparis menganggap bahwa seperti halnya sumpah yang keramat itu, peperangan ini merupakan sebagian dari usaha raja mempertahankan kerajaan yang baru dimenanginya.

Prasasti Karang Brahi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjetnk0uGTCEven-i-Ni87f4kkfqqRgS19D9oqHA__7ZlkEPGjWTJKbSQTVAA-widaEyN1gvnt4I3I2WAsFtMuLPsQLjVjZQmP3VrI8UVDyFn6aCH7CA5PDk5fvVt9aEUBwcwrrlYkpwXqJ/s1600/Foto0790.jpg

Akhirnya terdapat dua bukti yang jelas, sekalipun terdapat masalah-masalah politik seperti yang tercatat dalam prasasti-prasasti itu, pada pertengahan abad ke-18 M, kerajaan Sriwijaya telah berhasil menjadi sebuah kerajaan yang besar. Dalam buku Hsin T’ang shu dinyatakan bahwa “Srivijaya adalah sebuah kerajaan yang terbagi menjadi dua, dan kedua bagian kerajaan itu memiliki pemerintahan yang terpisah”.

“Kerajaan Barat” bernama Lang-p’o-lu-ssu yang biasa dipahami sebagai transkripsi dari “Barus” di sebelah utara Sumatra. Tahun terbentuknya kerajaan ini tidak diketahui, tetapi agaknya tidak mungkin sesudah 742 M, tahun terakhir dituliskan bahwa Sriwijaya mengirim utusan ke Cina sebelum permulaan abad ke-10, dan itu merupakan kali terakhir datangnya berita politik ke istana Cina dari Sriwijaya. Bukti lain yang telah disebutkan adalah Prasasti Ligor yang ditemukan di Semenanjung Melayu, bertahun 775 M. Di daerah yang sama telah ditemukan peninggalan-peninggalan arkeologi yang  telah menciptakan istilah “kesenian Sriwijaya”.

Dalam uraian Krom tentang faktor-faktor pendukung di Palembang, yaitu pelabuhan di Sumatra tenggara menguasai pelabuhan-pelabuhan lain di pantai itu dan juga di Selatan Malaka. Krom menyatakan letak geografis pelabuhan ini cocok sebagai tempat persinggahan dan pemunggahan barang-barang. Kelebihan ini digunakan oleh kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan yang terus berkembang antara India dan Cina. Krom juga menyatakan terdapat persaingan antara pelabuhan-pelabuhan yang memiliki keuntungan letak geografis ini. Menurut Krom, persaingan untuk menjadi kekuatan laut yang kuat di daerah ini  memerlukan kekuasaan yang kuat.



Ketidakjelasan faktor ekonomi dan politik yang menjadi latar belakang kebangkitan Sriwijaya menjadi hambatan dalam kajian tentang sejarah Sriwijaya pada periode selanjutnya dan disitulah masalah utama yang harus diperjelas demi mengkaji asal-usul kerajaan ini. Akhirnya penulis sadari betapa besar halangan ketika mengkaji Sriwijaya abad 10-11 M. Pada masa itu Sriwijaya yang sering mengirim kelompok perdagangan ke Cina, sedang berkonflik dengan orang Jawa dan Tamil. Kedua musuh itu menyatakan telah menyerang ibukota Sriwijaya pada 992 M dan sekitar 1025 M.

Kemudian tidak banyaknya penelitian tentang proto sejarah Sumatra, sedangkan kajian-kajian Sriwijaya cenderung memusatkan perhatian pada masa sesudah kunjungan I Tsing pada 671 M, alih-alih pada masa sebelumya.

Kajian tahap pertama dan sangat diperlukan dalam kajian tentang Sriwijaya adalah mengenal dengan pasti kerajaan ini dalam berbagai masalah seperti yang dihadirkan dalam beberapa tulisan tentang Asia yang berusaha memberikan cadre historique [kerangka sejarah]. Babak awal dalam proses penelitian adalah dari sumber Arab dan Cina. Lalu, pada 1918 Pof.Coedes dapat menyertakan bahwa nama kerajaan tersebut adalah “Srivijaya”[8]. Para sarjana Arab merupakan orang pertama yang menyadari hal itu, yaitu ketika Renaudot pada 1718 menerjemahkan sebuah teks Arab bertahun 851 M dan berhasil memaparkan adanya sebuah kerajaan bernama “Zapage” [9]. Melalui sebuah kajian tentang transkripsi kata-kata Sanskrit dalam bahasa Cina, Julien pada 1816 berhasil menunjukkan bahwa yang disebut Shih-li-fo-shih oleh I Tsing adalah Cribhoja [10]. Pada 1876, Groeneveldt menyamakan San-fo-ch’i, nama sebuah tempat pada zaman Dinasti Sung dan Ming, dengan sebuah pelabuhan di sungai Palembang dan menyatakan bahwa daerah itu adalah “Sarbaza”, yang pernah disebut para sarjana Arab pada abad ke-19 [11]. Pada 1883-1886, Beal, yang tertarik dalam permasalahan Buddha di Cina dan India, merupakan orang pertama yang menunjukkan suatu deretan sumber informasi yang kemudian dikenal orang sebagai sejarah “Srivijaya”. Ia melakukan penelitiannya dengan cara memperluas kesamaan nama-nama tempat.

Ia menerima pendapat Yule bahwa yang dimaksud dengan “Malaiur” oleh Marco Polo adalah Palembang. Menurutnya, I Tsing mengatakan bahwa “Mo-lo-yu” sama dengan Shih-li-fo-shih dan ia berpendapat bahwa shih-li-fo-shih sama dengan San-fo-ch’i, “Sarbaza” dan Palembang. Hasil penelitian ini sampai hari ini tetap menjadi kajian dasar tentang tata nama asing untuk Sriwijaya. Pada 1918, Prof.Coedes memberikan sumbangan yang berpengaruh ketika ia mengkaji prasasti Sriwijaya di Ligor dan menetapkan bahwa transkripsi Shih-li-fo-shih zaman T’ang itu adalah Sriwijaya bukan “Sribhoja”. Ia memusatkan perhatian pada prasasti-prasasti India dari abad ke-11 yang menyebutkan Sriwijaya. Dengan itu ia dapat memberikan uraian yang pertama tentang sejarah kerajaan ini, yang menurutnya berlangsung dari abad ke-7 hingga ke-13 M.

Kekurangan catatan tertulis tentang Nusantara sebelum abad ke-7 merupakan suatu kesulitan tersendiri, terutama karena ketiadaan prasasti-prasasti di Sumatra. Dalam kajian ini, Sumatra merupakan tempat yang lebih ditekankan. Meskipun begitu, kekurangan bukti atau peninggalan sejarah Sumatra disebabkan belum dilakukannya penggalian arkeologis yang lebih menyeluruh, terutama mengenai pendapat tentang lokasi pantai yang berperan besar dalam perdagangan luar negeri sebelum kebangkitan Sriwijaya.

Kesimpulan utama yang dapat dibuat dalam kajian tentang Indonesia masa awal ini adalah adanya dua tahap waktu yang dapat dibedakan pada pada abad ke-7 M. Tahap pertama, sampai abad ke-3 M, Nusantara bagian barat belum berdagang dengan Cina. Tahap kedua, perdagangan antara Cina dan Nusantara telah berlangsung pada awal abad ke-5 M. Kerangka kronologi ini mungkin penting dalam membantu kajian-kajian yang akan dilakukan tentang Indonesia masa awal.


Catatan:

[1]. E. Chavannes, Memoire compose a l’epoque de la grande dynastie T’ang,hlm: 119.
[2]. Terjemahan G.Coedes dari bahasa Sanskrit atas sisi A Prasasti Ligor, “Le royaume de Crivijaya”, BEFEO, 18,6 (1918) hlm:31.
[3]. Lihat tulisan Coedes, “Le royaume de Crivijaya”; G.Ferrand, “L’empire sumatranis de Crivijaya”, JA, 20 (1922),hlm:1-104,hlm:161-246; K.A.Nilakanta Sastri, History of Srivijaya; J.G. de Casparis, Prasasti Indonesia,II,hlm:1-46. Untuk tahun yang sudah ditinjau ulang dari Prasasti Kedukan Bukit (682 M) lihat L.C.Damais, “Etudes d’Epigraphie Indonesienne,III,Liste des principales inscriptions datees de l’Indonesie”,BEFEO,46 (1952), 98.
[4]. Ta T’ang his yu ch’iu fa kao seng chuan, Taisho tripitaka, edisi 1, no.2066,7c-8a.
[5]. De Casparis, Prasasti Indonesia, II,hlm: 12-13.
[6]. ----------------------------,hlm: 11-19.
[7]. Lihat salah satunya Coedes, “Les inscriptions malaises de Crivijaya”, BEFEO, 30 (1930),hlm:29-80.
[8]. Coedes, “Le royeume de Crivijaya”.
[9]. E. Reinaudot, Anciennes relations des Indes et de la Chine,hlm:75-78. Teksnya berjudul Ahbar as Sin wa’l-Hind, yang diterjemahkan I.Sauvaget pada 1948.
[10]. J.T.Reinaud, Relations des voyages faits parles Arabes et les Persans dans l’Inde.
[11]. S.Julien, Methode pour de chiffer et transcrire le noms Sanscrits,hlm:10, no. 299.
[12]. W.P.Groenveldt, Notes on the Malay Archipelago and Malacca,hlm:76.



O.W. Wolters (2011)
Kemaharajaan Maritim Sriwijaya dan Perniagaan Dunia Abad III-Abad VII
Depok: Komunitas Bambu
Hlm:1-18

Sabtu, 13 April 2013

Palaeografi dan Epigrafi Arab (Selayang Pandang)



H.M.Thoha Idris


Secara bahasa, paleografi berasal dari kata paleo yang berarti kuno dan graft yang berarti tulisan. Secara istilah, palaeografi adalah ilmu yang mempelajari naskah-naskah kuno yang tercatat atas bahan rapuh/lunak seperti papyrus, kulit, lontar, tembikar, dan lilin. Palaeografi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bentuk huruf dan berusaha menetapkan sejarah abjad karena palaeografi juga mempelajari sejarah dan silsilah abjad. Palaeografi juga memperhatikan bentuk/estetika huruf dari naskah yang ada disamping mencari makna sejarahnya.

Berbeda dengan palaeografi, epigrafi adalah ilmu yang mempelajari tulisan-tulisan di atas bahan kertas seperti batu dan logam. Hal yang menjadi perhatian utama dalam epigrafi adalah isi dan struktur pernyataan resmi; undang-undang, peraturan, keputusan raja, pengakuan hak, prasasti, ketentuan agama, dan perjanjian raja-raja. Indonesia merupakan negeri dengan peninggalan prasasti dan naskah kuno yang sangat kaya dalam dunia epigrafi.

Tulisan Jawi

Palaeografi dan epigrafi Arab merujuk kepada tulisan Jawi, yaitu tulisan berbahasa Melayu dengan menggunakan huruf Arab. Perkataan tulisan jawi berasal dari bahasa Arab, yaitu Jawa atau Jawi yang berarti atau dimaksudkan daerah Asia Tenggara beserta para penduduknya. Hal ini berarti yang dimaksud dengan Jawi atau Jawa itu bukan hanya panggilan kepada pulau Jawa dan para penduduknya saja, tetapi meliputi Melayu, Aceh, Pattani, Banjar, Bugis, Makassar, Jawa, Sunda, Minangkabau, Madura, dan lain-lain. Nama “Java” itu sendiri kemungkinan besar berasal dari perkataan Jawa Dwipa yaitu nama yang diberikan pada daerah Asia Tenggara oleh orang-orang terdahulu. Sehingga sampai sekarang pun istilah tulisan Jawi masih digunakan di daerah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand selatan.


Metodologi Tulisan Jawi (Sistem Ejaan Jawi)

Tulisan Arab yang digunakan dalam bahasa Melayu atau tulisan Jawi mempunyai beberapa huruf tambahan. Ini disebabkan karena terdapatnya fonem Melayu yang tidak ada simbolnya dalam tulisan Arab, oleh sebab itu beberapa huruf baru terpaksa diciptakan, namun huruf-huruf baru ini masih mengandung ciri-ciri huruf Arab, antara lain:


Sistem ejaan Jawa mempunyai dua pengaruh yaitu pengaruh Arab dan pengaruh Melayu. Pada ejaan yang mendapat pengaruh Arab pada awalnya menggunakan tanda-tanda baris, seperti:


Setelah ejaan ini mulai umum digunakan dalam bahasa Melayu, maka tanda-tanda baca/garis pun mulai dihilangkan:



Ejaan pengaruh Melayu timbul kemudian yaitu setelah diwujudkan huruf-huruf saksi atau vokal dalam tulisan Jawi yaitu huruf alif, waw, dan ya. Ketiga huruf ini mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai konsonan (huruf mati/komandan) dan vokal (huruf hidup/saksi). Pada tingkat pertama pada suku kata pertama diberi huruf saksi sedangan pada suku ke dua tidak, contoh:


Pada tingkat kedua, ejaan pengaruh Melayu ini menggunakan vokal pada kedua suku kata, contohnya:



Penyebaran Tulisan Jawi

Tulisan Jawi mula-mula di temui di Trengganu (1303), kemudian di negeri Sembilan (146?) dan di Pahang (1495). Kesemua tempat tersebut terletak di tanah Semenanjung Melayu. Tetapi sesudah tarikh tersebut penggunaan tulisan Jawi terdapat di tempat lain di Asia Tenggara.

Pada masa empayar Aceh (abad ke-15 M) semua tulisan tersebar luas dalam bahasa Melayu dengan menggunakan tulisan Jawi. Selain itu disebutkan juga tentang sepucuk surat dari Paduka Sahabat Kaicil Jingalawu, Kapitan laut Buton kepada Gub. Jen. Johan Maestuijher di Batavia (1080 H), surat ini penting karena dari surat tersebut dapat diketahui bahwa 300 tahun lalu, bahasa Melayu dengan tulisan Jawi telah digunakan di Pulau Buton (Sulawesi Selatan).

Selain itu masih banyak lagi surat-surat dalam bahasa Melayu bertulisan Jawi yang ditulis oleh para penguasa asli Asia Tenggara dan pendatang dari luar terutama dari Barat. Bagi raja-raja yang berkuasa di daerah induk bahasa Melayu-Tanah Semenanjung sampai ke selatan Thailand, Sumatra Timur dari Tamiang sampai Palembang dan Bengkulu, Kepulauan Riau hingga ke Bangka, Belitung Tambalen dan lain-lain dan di sepanjang pantai sekeliling Kalimantan, sudah pasti mereka menggunakan bahasa Melayu bertulisan Jawi.

Selain dari itu terdapat hikayat dan kitab yang ditulis dalam bahsa Melayu bertuliskan Jawi. Naskah-naskah jenis ini tersebar dari Campa dan Pattani di Utara hingga Surabaya di Selatan dan dari Sumatra di Barat hingga Maluku di Timur.

Di pulau Jawa juga terdapat karya-karya berbahasa Melayu bertuliskan Jawi, sekalipun daerah ini termasuk ke dalam daerah kumpulan bahasa Jawa. Di Cirebon misalnya, terdapat Hikayat Susuhunan Gunungjati. Hikayat ini bertarikh pada 23 Ramadhan 1230/1815 dengan bahasa Melayu bertulisan Jawi.
Di pulau Sumbawa (Nusa Tenggara) terdapat karya-karya bahasa Melayu bertuliskan Jawi, antara lain “Cerita Asal Bangsa Jin dan segala Dewa-Dewa”.


Prasasti: Sebagai Media Tulisan Jawi
Beberapa Prasasti Bertuliskan Jawi

Islam telah banyak meninggalkan beberapa batu bersurat atau prasasti di berbagai tempat di Asia Tenggara. Pada awalnya tulisan-tulisan yang terdapat pada prasasti-prasasti tersebut menggunakan bahasa Arab dan belum menggunakan bahasa Melayu bertuliskan Jawi.

Tulisan Jawi (bahasa Melayu tulisan Arab) yang dipahat pada batu bersurat ditemukan pada prasasti Trengganu yang ditemui di Sungai Teresar, Kuala Berang, Trengganu Darul Iman, Malaysia, bertarikh Jumat 4 Rajab 702 H (27 Februari 1303 M). Salah satu lagi prasasti dengan tulisan Jawi ditemukan di negeri Pahang Darul Makmur, Malaysia bertarikh 15 Syawal 900 H. Disamping itu terdapat pula satu prasasti yaitu Prasasti Shekh Ahmad Majmun di Pangkalan Kapuas, negeri Sembilan, Darul Khusus, Malaysia bertarikh 1467 M.

Sedangkan untuk manuskrip Jawi, bahan yang paling awal bertarikh 998 H atau 1590 M yaitu manuskrip kitab Aqadil Nasafi yang mengandung teks dalam bahasa Arab dengan terjemahan dalam bahasa Mealyu bertuliskan Jawi yang ditulis di bawah setiap baris teks Arab tersebut. Sebelum kitab ini, terdapat juga kitab Barh Al Lahut yang ditulis oleh Abdullah Anaf, tetapi salinan teksnya tidak dapat dipastikan tarikhnya. Selain itu terdapat juga manuskrip-manuskrip lainnya seperti manuskrip Tuti Namah (1600 M), manuskrip Hikayat Seri Rama (1633 M) dan lain-lain.


Cakrawala Arkeologi: Persembahan untuk Prof. Dr. Mundardjito
R.Cecep Eka Permana, Wanny Rahardjo.W, Chaksana A.h.Said (Peny.)
Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
Hlm: 230-301

Kamis, 11 April 2013

Epigrafi dan Sejarah Indonesia


Boechari


Prasasti adalah sumber-sumber sejarah dari masa lampau yang tertulis di atas batu atau logam. Sebagian besar dari prasasti-prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja-raja yang memerintah di berbagai kepulauan Indonesia sejak abad V Masehi. Sejumlah kecil daripadanya merupakan keputusan pengadilan, yang biasa disebut dengan istilah jayapattra. Sebagian dari prasasti-prasasti itu memuat sebuah naskah yang panjang, tetapi ada juga di antaranya yang hanya memuat angka tahun atau nama seseorang pejabat kerajaan (de Casparis, 1952: 21-23). Prasasti-prasasti dari zaman Islam yang sebagian besar tertulis pada batu nisan, biasanya berisi keterangan tentang nama orang yang dimakamkan di situ, tanggal kematiannya, dan kutipan ayat-ayat suci Al Quran.

Pada waktu ini pemeliharaan dan penelitian atas sumber sejarah yang berupa prasasti itu menjadi tugas dari Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, suatu instansi dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam instansi tersebut tersimpan sekitar tiga ribu cetakan kertas prasasti-prasasti batu dan logam yang tersebar di seluruh kepulauan. Prasasti-prasasti itu tertulis dalam bahasa Sansekerta, Melayu Kuna, Sunda Kuna, Jawa Kuna, Bali Kuna, Tamil dan Arab. Sebagian besar dari prasasti-prasasti itu masih harus diteliti dengan seksama, sebab sekalipun sudah banyak yang dibaca dan diterbitkan, kebanyakan baru terbit dalam bentuk transkripsi sementara, seperti kumpulan transkripsi dari J.L.A.Brandes yang berisi 125 prasasti.

Tugas seorang epigrafi sekarang ini tidak saja meneliti prasasti-prasasti yang belum diterbitkan, tetapi juga meneliti kembali prasasti-prasasti yang baru terbit dalam transkripsi sementara. Kemudian ia harus menerjemahkan prasasti-prasasti tersebut ke dalam bahasa modern sehingga sarjana-sarjana yang lain, terutama ahli-ahli sejarah dapat menggunakan keterangan-keterangan yang terkandung di dalam prasasti-prasasti itu.

Dalam menunaikan tugas tersebut ahli epigrafi banyak menjumpai kesulitan. Pertama karena banyak prasasti, terutama prasasti batu, yang sudah sedemikian usang sehingga amat sulit untuk membacanya. Ia harus membaca bagian-bagian yang usang itu berkali-kali sampai mendapatkan pembacaan yang memuaskan. Dengan menguasai bentuk huruf kuno dengan segala lekuk likunya, dan dengan senantiasa membanding-bandingkan huruf-hurufnya yang usang itu dengan huruf-huruf yang masih jelas, seorang ahli epigrafi berusaha untuk memperoleh pembacaan yang selengkap-lengkapnya. Dalam hubungan ini prasasti-prasasti yang tertulis dalam bahasa Sanskerta memberikan keuntungan karena tertulis dalam bentuk mantra, yang memungkinkan ahli epigrafi menggunakan hukum guru laghu untuk membantu memperoleh pembacaan yang lengkap dari bagian-bagian yang meragukan. Tetapi sekalipun dengan penuh kesabaran dan ketekunan, sering ahli epigrafi tidak mungkin lagi membaca bagian-bagian prasasti yang sudah terlalu rusak.

Prof.Dr.Arlo Griffiths, prasasti di Blitar.
Kesulitan yang kedua dihadapi pada waktu menerjemahkan prasasti-prasasti itu. Pengetahuan kita tentang bahasa kuno yang digunakan di dalam prasasti-prasasti itu masih belum cukup untuk memahami sepenuhnya makna yang terkandung di dalam naskah-naskah itu. Dalam menghadapi prasasti-prasasti yang tertulis dalam bahasa Jawa Kuna kita memang mempunyai bahan perbandingan dalam bentuk naskah-naskah kesusastraan. Tetapi penerbitan naskah-naskah tersebut, sekalipun sering disertai dengan daftar kata-kata, tidak memberikan bantuan sebagaimana yang diharapkan, karena prasasti-prasasti menggunakan istilah-istilah dan susunan kalimat yang berbeda dengan yang digunakan di dalam naskah-naskah kesusastraan. Banyak istilah tentang pengaturan hak-hak atas tanah, tentang bermacam-macam jenis pajak tanah dan bermacam-macam nama jabatan yang tidak pernah dijumpai di dalam kakawin Jawa Kuna. Mungkin penerbitan naskah-naskah hukum Jawa Kuna lebih banyak memberi bantuan kepada ahli epigrafi. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa dengan kemajuan pengetahuan kita akan bahasa-bahasa kuno terjemahan yang telah ada perlu ditinjau kembali, dengan akibat bahwa kesimpulan-kesimpulan yang telah ada yang didasarkan atas terjemahan yang lama harus ditinggalkan.

Di dalam prasasti sering dijumpai keterangan panjang lebar tentang hari, bulan, tahun, dan unsur-unsur penanggalan yang lain, yaitu waktu suatu daerah ditetapkan menjadi sīma, juga keterangan tentang orang yang menetapkan daerah itu menjadi sima, tentang orang-orang yang melaksanakan upacara, tentang bermacam-macam upacara yang dilakukan, dan sebagainya. Bagian yang memuat sumpah atau kutuan yang diancamkan terhadap orang yang berani melanggar ketentuan-ketentuan di dalam prasasti itu mengambil tempat yang amat penting. Sering pula dijumpai keterangan tentang batas-batas dari daerah perdikan tersebut. Dalam hal seorang raja memberi anugerah sīma kepada seorang pejabat yang berjasa, pejabat tersebut sering mendapat tambahan hak-hak istimewa yang juga disebutkan di dalam prasasti. Kebanyakan penetapan daerah perdikan itu dilakukan oleh seorang raja atau atas perintah seorang raja. Dalam hal yang demikian sering dijumpai daftar pejabat-pejabat tinggi kerajaan yang melaksanakan perintah raja. Tetapi ada juga anugerah sīma yang diberikan oleh pejabat-pejabat kerajaan (Krom, 1931:2).

Unsur-unsur penanggalan yang biasa ditulis dengan lengkap dan tepat, disusul dengan nama raja dan nama pejabat kerajaan, memberikan kerangka kronologi bagi penulisan sejarah kuno. Berdasarkan keterangan-keterangan itu kita dapat mengetahui masa pemerintahan seorang raja, sedang tempat-tempat penemuan prasasti dapat memberikan gambaran tentang luasnya kekuasaaan raja.

Setelah menyebut angka tahun dan unsur-unsur penanggalan yang lain, prasasti biasanya menyebutkan bahwa perintah seorang raja diturunkan kepada sekelompok pejabat kerajaan, yang kemudian meneruskannya lagi kepada sekelompok pejabat-pejabat yang lebih rendah. Berdasarkan keterangan-keterangan itu dapat untuk sementara ditarik kesimpulan bahwa pemerintah pusat terdiri atas sekurang-kurangnya dua kelompok pejabat kerajaan.

Sesudah menyebut pejabat-pejabat kerajaan yang menerima perintah raja, prasasti menyebutkan peristiwa pokoknya, yaitu penetapan suatu daerah menjadi sīma. Penetapan suatu daerah menjadi sīma dapat merupakan anugerah raja kepada seorang pejabat yang telah berjasa atau untuk pemeliharaan suatu bangunan suci. Tetapi fakta sejarah yang pada zaman dahulu hal ini dianggap amat penting, sehingga diperingati dengan suatu prasasti, namun kurang mendapat perhatian dari para ahli sejarah zaman sekarang. Mereka lebih memperhatikan bagian prasasti yang menyebutkan apa sebab-sebabnya (sambandha) suatu daerah tersebut dijadikan sīma. Bagian ini memang sering memuat fakta-fakta yang dapat dicari dalam cerita sejarah.

Kelemahan keterangan yang dimuat dalam prasasti yaitu minimnya informasi yang ditulis oleh sang penulis prasasti. Memang harus disadari bahwa penulis prasasti tidak bermaksud untuk mewariskan keterangan-keterangan kepada generasi yang akan datang, termasuk kita yang hidup pada masa kini. Ia tidak memandang perlu untuk memberikan keterangan-keterangan kepada generasi yang akan datang, termasuk kita yang hidup pada masa kini. Ia tidak memandang perlu untuk memberikan keterangan-keterangan yang sejelas-jelasnya, sebab bagi mereka yang hidup sezaman dengannya sudah jelas perkawinan raja yang mana yang dimaksudkan di dalam prasasti itu, dan jelas juga apakah yang menyebabkan (misalnya) suatu penduduk merasa ketakutan. Yang terpenting untuk diketahui oleh generasi yang akan datang hanyalah bahwa daerah-daerah yang disebutkan di dalam prasasti itu telah ditetapkan menjadi sima untuk suatu kepentingan tertentu.



Keterangan-keterangan yang terdapat di dalam prasasti-prasasti tersebut akan sangat penting artinya bagi para ahli sejarah andaikata disebutkan juga dengan siapa raja-raja tersebut berperang dan peperangan apa yang dimaksudkan di dalam prasasti-prasasti tersebut. Tetapi sayang sekali bahwa tidak ada sumber-sumber yang lain yang dapat menjelaskan masalah-masalah itu. Dapatlah dipahami mengapa sejarah Indonesia masih penuh dengan episode-episode yang tidak jelas dan tidak pasti. Bukan saja karena sumber-sumbernya yang tidak lengkap, tetapi juga karena sumber yang ada tidak memberi keterangan seperti yang diharapkan.

Seorang ahli sejarah tidak dapat mengharapkan semua prasasti berisi keterangan yang lengkap. Ia harus menjalin ceritanya di sekitar sejumlah fakta yang tersebar dari berbagai prasasti seperti seekor laba-laba yang harus menjalin sarangnya di antara ranting-ranting pohon. Tetapi di dalam menulis ceritanya itu seorang ahli sejarah harus mempunyai pengetahuan tentang struktur masyarakat zaman kuno yang harus digunakannya sebagai landasan untuk merekonstruksikan fakta-fakta sejarah. Prasasti-prasasti banyak berisi keterangan-keterangan tentang keadaan masyarakat, tetapi justru bagian-bagian itu sering diabaikan oleh ahli sejarah. Apa yang diuraikan di atas baru merupakan sebagian dari isi prasasti, dan dalam bagian-bagian berikut inilah dijumpai keterangan-keterangan yang sering amat terperinci tentang keadaan masyarakat Jawa Kuno.

Di dalam bagian prasasti secara tidak langsung diperoleh juga keterangan tentang kegiatan perdagangan dan usaha kerajinan. Keterangan itu diperoleh dari ketentuan-ketentuan mengenai pajak perdagangan dan pajak usaha. Juga dijumpai keterangan tentang ketentuan mengenai denda-denda dari berbagai macam kejahatan. Sering juga dikatakan bahwa seorang pejabat yang memperoleh anugerah sīma karena jasa-jasanya terhadap raja dan kerajaan mendapat tambahan berupa berbagai hak istimewa. Kalau keterangan tentang hak-hak istimewa itu diteliti dengan seksama mungkin akan diperoleh gambaran tentang perbedaan antara rakyat biasa dan kaum bangsawan.

Sesudah bagian yang menyebutkan ketetapan mengenai kedudukan daerah perdikan itu didapatkan daftar para pejabat, dari pejabat tinggi kerajaan sampai pejabat desa yang hadir sebagai saksi pada upacara penetapan sima dan menerima persembahan. Besar kecilnya persembahan yang mereka terima membayangkan kedudukan masing-masing di dalam hierarki pemerintahan. Penelitian atas bagian ini akan memberikan gambaran tentang struktur birokrasi kerajaan-kerajaan Jawa Kuno.

Kemudian menyusul bagian yang terpenting, yaitu upacara penyumpahan yang dipimpin oleh seorang pejabat keagamaan yang bergelar saṅ (pamgat) makudur. Bagian ini dimulai dengan disebutkannya bermacam-macam saji-sajian, terdiri antara lain atas kepala kerbau, seekor ayam jantan, sebutir telur, air (argha), jarum, pemotong kuku, dandang, seperangkat alat-alat untuk makan dan minum, dan sejumlah alat-alat yang digunakan dalam pembukaan tanah dan persawahan (Stutterheim, 1940: 21-23).

Sebagai penutup upacara itu dan sebagai bukti bahwa penetapan sima itu telah dikukuhkan (cihnanyan mapageh ikanaṅ susukan sīma) para hadirin ‘menambah daun’ masing-masing (umuwahi ronya). Mungkin yang dimaksudkan dengan ungkapan tersebut ialah bahwa para hadirin membungkus apa yang masih tersisa dari hidangan-hidangan yang disuguhkan untuk di bawa pulang (mbrekat, bhs.Jawa). Di dalam berbagai prasasti sering terdapat keterangan bahwa di dalam upacara penetapan sīma itu ada juga pertunjukkan gamelan, tari-tarian, nyanyian, dagelan, pembacaan naskah yang mungkin dapat disamakan dengan mabasan di Bali dan lain-lain (van Naerssen, 1937).

Prof.Dr. Boechari, ahli Epigrafi Indonesia
http://nationalgeographic.co.id/media/daily/300/0/201212060944460/n/preview.jpg


Keterangan-keterangan di dalam bagian-bagian prasasti tersebut apabila diteliti dengan seksama, dapat memberikan gambaran yang amat menarik tentang struktur kerajaan, struktur birokrasi, struktur kemasyarakatan, struktur perekonomian, agama, kepercayaan dan adat-istiadat di dalam masyarakat Indonesia kuno. Pengetahuan akan segisegi struktural itu akan menghindarkan kita dari bahaya anakronisme, karena tanpa landasan pengetahuan tersebut orang mudah sekali cenderung untuk memproyeksikan fakta-fakta sejarah dari masa lampau di atas keadaan masyarakat zaman sekarang, yang mungkin sekali berpegang kepada norma-norma yang berbeda dari masyarakat zaman dahulu.


Rujukan:
de Casparis, 1952. “Penjelidikan Prasasti: Tugas ahli epigrafi Dinas Purbakala”, dalam Amerta 1 (1952), hlm: 21-23, terbit kembali (1985), hlm: 25-29.
Krom, N.J.1931. Hindoe-Javaansche Geschiedenis. Tweede, herziene druk. ‘s-Gravenhage:M.Nijhoff.
van Naerssen, F.H. 1937. “Twee koperen oorkonden van Balitung in het Koloniaal Instituut te Amsterdam.”, BKI 95, hlm: 441-461.
Stutterheim, W.F.1940. “Oorkonde van Balitung uit 905 A.D. (Randoesari I).” INI, hlm: 3-28.


Boechari, 2012
Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti
Jakarta: KPG
hlm: 3-28