Rabu, 27 Maret 2013

Aksara



Harimurti Kridalaksana dan Hermina Sutami



Bahasa merupakan sistem tanda bunyi yang digunakan oleh pemakainya untuk berkomunikasi dan untuk pelbagai keperluan lainnya [bahasa lisan]. Bahasa juga memiliki wujud tulis yang merupakan hasil perkembangan budaya, yakni bahasa tulis. Dengan demikian, bahasa mempunyai dua wahana untuk mewujudkannya, yaitu bunyi dan tulisan.

Tulisan berada dalam suatu sistem yang disebut sistem tulisan atau aksara. Gelb (1952:12) mengatakan bahwa tulisan adalah “a system of human intercommunication by means of conventional visble marks [..]” atau ‘sebuah sistem komunikasi antarmanusia yang menggunakan sarana konvensional yang bersifat visual’. Sebagai sebuah sistem, aksara mencakup aturan menulis, urutan abjad, cara melafalkan abjad, struktur karakter dan sebagainya.


Asal Mula dan Perkembangan Aksara

Aksara tidak muncul dengan sendirinya di muka bumi ini, tetapi diciptakan oleh manusia seiring dengan berkembangnya kebudayaan. Penemuan atau bukti arkeologislah yang mendukung pernyataan para ahli tentang asal mula penyebaran, perkembangan dari aksara yang sudah berumur ribuan tahun.

Masa Praaksara

Bilamana dan oleh siapa tulisan diciptakan belum diketahui secara pasti karena belum ditemukan bukti tertulisnya. Dalam masyarakat beredar legenda tentang asal-muasal tulisan. Penduduk India mempercayai bahwa Ganesha (dewa kebijaksanaan berbentuk gajah) adalah pencipta tulisan. Diceritakan bahwa ia mematahkan sebuah taringnya untuk digunakan sebagai alat menulis kitab suci Veda disamping mengajarkan secara lisan. Masyarakat Mesir percaya bahwa Dewa Thoth menciptakan tulisan untuk Raja Thamus (Coulmas,1989:5). Pada kedua masyarakat itu timbul anggapan bahwa penciptaan tulisan berada di luar kemampuan manusia sehingga harus diciptakan oleh dewa. Hampir sama dengan kedua masyarakat di atas, di Cina beredar legenda yang mengatakan tulisan diciptakan oleh manusia, bukan dewa. Namun manusia itu pun bernama Cang Jie-bukan sembarang manusia, melainkan pejabat kaisar. Bahkan, ada yang mengatakan ia seorang kaisar, hidup sekitar dua abad sebelum Masehi. Masyarakat Cina percaya bahwa kaisar adalah utusan dewa. Jadi, anggapan ketiga masyarakat kuno ini tidak jauh berbeda.

Timbulah pertanyaan,bagaimana manusia kuno mengingat suatu peristiwa. Para peneliti melakukan penelitian terhadap gambar-gambar di atas batu, batu karang, kayu, tulang binatang dari suku-suku Timur Tengah, suku-suku Indian di Amerika, Afrika, Eropa dan Cina. Ternyata gambar-gambar tersebut merekam suatu peristiwa. Gambar-gambar ini belum dapat disebut tulisan karena tidak merupakan bagian dari suatu sistem tanda yang konvensional. Gambar itu hanya dimengerti oleh orang tertentu saja, yaitu si penggambar dan orang-orang di sekitarnya yang bersama-sama mengalami peristiwa yang dilukiskan dalam gambar tersebut. Walaupun belum dikategorikan sebagai tulisan, gambar-gambar ini digunakan untuk berkomunikasi. Gambar-gambar yang digunakan sebagai sarana untuk mengingat sesuatu dikatakan mempunyai fungsi mneminik (mnemonic function). Di samping gambar, alat pengingat (mnemonic device) lainnya adalah tali bersimpul, kulit kerang, batu koral, dsb. Benda-benda itulah yang digunakan masyarakat primitif sebelum mereka mengenal tulisan.


Masa Aksara

Masa ini merupakan kelanjutan dari masa praaksara. Menurut hasil penelitian, aksara bersumber dari tiga daerah peradaban dunia, yaitu lembanh Sungai Nil, dua lembah sungai di Mesopotamia dan lembah Sungai Kuning di Cina. Di Mesopotamia hidup orang Sumeria dengan aksara pakunya, di lembah sungai Nil hidup orang Mesir dengan aksara hieroglif dan di lembah Sungai Kuning di Cina hidup suku Han dengan aksara han. Ketiga akasara tertua di dunia ini diperkirakan sudah ada di dunia sejak 3.000 tahun lebih sebelum Masehi. Walaupun usia ketiga aksara itu tidak jauh berbeda, para ahli memperkirakan tidak ada hubungan antara aksara paku, hieroglif dan aksara han. Hieroglif diperkirakan berasal dari aksara paku mengingat usianya tidak jauh berbeda. Ketiga aksara ini menurunkan aksara-aksara yang ada di dunia.

Aksara Paku
Aksara tertua ini berasal dari Mesopotamia di lembah Sungai Tigris dan Efrat. Aksara paku berbentuk seperti paku, ditulis di atas tanah liat. Pada awalnya aksara in berbentuk gambar (piktogram), kemudian berubah bentuk menjadi seperti paku. Aksara ini digunakan sebagai wahana tulis bahasa Sumeria. Setelah bahasa Sumeria mati, aksara itu digunakan oleh bahasa Akadia, kemudian bahasa Babilonia, Asiria, Siria, Elamit, Huria, Persia Tua dan Hittie.

Dokumen pertama yang ditemukan menggunakan tulisan paku bertanggal sekitar tahun 3000 SM. Demikian pentingnya aksara tersebut sampai-sampai para ahli astronomi Babilonia masih menggunakannya sampai pertengahan abad pertama Masehi. Dengan perekonomian dan perdagangan yang begitu maju, aksara paku menjadi alat penting dalam pencatatan dokumen jual beli, kontrak, sensus, pajak, kegiatan birokrasi pemerintahan, dsb. Di bawah ini dapat dilihat perbandingan huruf paku dari berbentuk gambar (piktogram) sampai berbentuk paku (Coulmas, 1989:74).



Sistem tulisan Sumeria ini diserap oleh bangsa Persia (600-400 SM), tetapi bukan untuk  menggambarkan benda atau gagasan (ideogram), melainkan untuk menggambarkan suku kata. Dengan demikian aksara ini dari piktogram dan ideogram berubah menjadi aksara silabis. Di bawah ini bentuk huruf paku beserta bunyinya di dalam suku kata (Coulmas, 1989:87).



Aksara Hieroglif
Aksara ini berasal dari Mesir. Contoh hieroglif berbentuk gambar dari suatu benda atau suatu perbuatan (Coulmas,1989:62).



Perbedaan waktu kemunculan hieroglif dengan aksara paku tidak terlalu jauh. Diperkirakan hieroglif berasal dari aksara paku, karena kemudian di Mesir juga berkembang aksara silabis. Hieroglif Mesir ini menurunkan aksara Semit kuna yang mempunyai dua cabang: semit utara dan semit selatan. Salah satu anak cabang aksara semit utara menurunkan aksara fenesia yang ebrsifat silabis, yang digunakan bangsa Fenesia yang hidup di pantai timur Laut Tengah (sekarang Lebanon). Pada sekitar tahun 1500 sebelum Masehi, dibuat 22 suku kata dari aksara fenesia. Dalam sistem itu, setiap tanda melambangkan satu konsonan yang diikuti oleh suatu vokal.

Aksara fenesia menurunkan aksara Yunanio yang mempengaruhi timbulnya aksara latin. Aksara Yunani dan latin masih menunjukkan kemiripannya dengan aksara semit kuna. Beberapa modifikasi terhadap aksara semit kuna yang bersifat silabis menghasilkan aksara Yunani yang bersifat alfabetis. Pada aksara Yunani ini satu huruf mewakili satu konsonan atau vokal. Kemiripan antara huruf Yunani, Latin, dan semit kuna dapat dengan mudah dikenali dari bentuknya.

Aksara Yunani diserap oleh orang Romawi yang menghasilkan aksara latin yang juga bersifat alfabetis. Pada abad-abad pertama Masehi aksara latin menyebar ke seluruh dunia dan sampai di Indonesia sekitar abad ke-16 M bersamaan dengan penyebaran agama Kristen. Aksara latin inilah yang digunakan dalam bahasa Indonesia.

Di samping aksara fenesia yang menurunkan aksara Yunani, cabang lain dari aksara semit utara adalah aksara aramea. Aksara ini antara lain menurunkan aksara brahmi yang mempunyai cabang bernama aksara pallawa yang digunakan di India selatan pada abad ke-4 M. Aksara pallawa menyebar ke Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Hindu dan Buddha. Aksara Pallawa berasal dari India selatan dengan bahasanya bernama Sansekerta. Masuknya bahasa Sansekerta ke Nusantara tampak dari banyaknya kata serapan dalam bahasa Indonesia. Bagi bahasa daerah, pengaruh itu tampak di bidang aksaranya. Beberapa bahasa daerah seperti Jawa, Bali, Batak, Rejang, dan Bugis menggunakan aksara pallawa sebagai wujud bahasa tulisannya.



Aksara Han
Aksara ketiga yang menurunkan apa yang kita kenak dengan huruf kanji adalah aksara han. Aksara han digunakan oleh suku Han (mayoritas penduduk RRC) yang pada masa primitif mendiami lembah Sungai Kuning. Bukti tertua tentang aksara Han yang berbentuk gambar (piktogram) ditemukan dekat Distrik An Yang, Provinsi Henan. Tempat ini diperkirakan merupakan ibu kota Dinasti Shang (tahun 1600-1066 SM). Berdasarkan bukti tersebut, para ahli memperkirakan bahwa aksara han sudah ada pada Dinasti Shang, atau bahkan lebih awal lagi, yakni pada Dinasti Xia, sekitar abad ke-21 sebelum Masehi. Legenda tentang pencipta karakter bernama Cang Jie mengatakan umur karakter han berkisar sekitar 5.000-6.000 tahun yang lalu. Aksara han kuno ditulis di atas kulit penyu dan tulang lembu. Tulisan pada kedua jenis benda itu berisi ramalan tentang bencana alam, penentuan baik-buruknya peruntungan, dsb.

Dalam perkembangan selanjutnya, aksara han mengalami evolusi dari aksara han kuno yang bentuknya menyerupai benda yang ditirunya sampai menjadi aksara han yang hanya terdiri atas guratan-guratan tidak beraturan.

Aksara han tidak terlepas dari bahasanya, yakni bahasa Han. Bahasa Han menyebar ke negeri tetangganya. Ini dibuktikan dengan banyaknya kata serapan pada bahasa-bahasa di sekitarnya, antara lain bahasa Indonesia, yang berasal dari bahasa itu. Namun, aksara han tidak menyebar ke barat dan selatan, tetapi kearah timur, yakni Jepang dan Korea. Akan tetapi, Vietnam yang terletak di selatan ternyata juga menyerap aksaranya.

Aksara ini masuk ke Jepang sekitar abad ke-5 ketika terjadi kontak budaya dan perdagangan antara kedua negeri itu (Gelb,1952:159). Namun, menurut legenda Jepang, aksara itu dibawa oleh sarjana Korea bernama Wani. Bukti yang dapat dipercayai mengatakan bahwa pada abad ke-7 Masehi, aksara Han sudah digunakan secara luas di Jepang (Coulmas, 1989:122-123). Setelah diserap oleh orang Jepang, aksara itu berubah nama menjadi kanji.

Kalau di Cina karakter han merupakan satu-satunya aksara yang digunakan dalam tulis-menulis, Jepang masih memiliki dua aksara lain yang juga berasal dari Cina, yakni katakana dan hiragana. Kedua aksara ini juga berasal dari Cina dan bersifat silabis. Katakana berasal dari bagian karakter han jenis kaishu ‘aksara baku’ dalam bentuk rumit yang juga ditemukan pada masa sekarang di Taiwan. Adapun katakana digunakan untuk menuliskan nama-nama asing ke dalam bahasa Jepang. Hiragana berasal dari akasara Han jenis caoshu ‘aksara rumput’ yang secara sekilas tampak seperti rumput ilalang dan biasa digunakan pada kaligrafi.



Aksara Han menyebar terus ke timur ke arah Korea pada abad ke-7 M. Di Korea nama aksara han berubah menjadi hanja. Di samping itu Korea masih memiliki aksara berupa abjad latin yang dinamakan han’gul. Aksara han juga menyebar ke tenggara negara Vietnam. Di negeri itu aksara han diberi nama Chu nom. Dokumen yang ditemukan menyebutkan bahwa sejak tahun 1343 dokumen ditulis dengan menggunakan aksara han (Coulmas, 1989:113-135).

Acuan:
Florian Coulmas,1989. The Writing Systems of the World. Oxford: Basil Blackwell.
I.J.Gelb,1952. A Study of Writing: The Foundations of Grammatology. London: Routledge and Kegan Paul, Ltd.


Kushartanti (et.al) (peny.), 2005.
Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: GPU. 
hlm: 65-87.

1 komentar: