Jumat, 19 April 2013

Beberapa Persoalan Tentang Sejarah Sriwijaya



O.W.Wolters

Kajian ini dibuat sebagai sumbangan untuk penelitian sejarah Nusantara bagian barat zaman awal. Kajian ini menggambarkan latar belakang ekonomi semasa kebangkitan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra tenggara pada pertengahan abad ke-7 M. Sriwijaya berperan penting dalam perdagangan Asia pada zaman pertengahan, selama lebih dari 500 tahun. Kemudian setelah sejarahnya dihidupkan kembali oleh para sejarawan modern, kerajaan ini menjadi terkenal dalam sejarah Indonesia, terutama di kalangan orang Indonesia. Mereka membanggakannya sebagai kekuatan laut yang besar dan kerajaan tertua dalam sejarah kebangsaan mereka.

Hal yang menarik tentang Kerajaan Sriwijaya adalah kemunculan dan perkembangannya yang tiba-tiba. Pedagang Cina, I-Tsing, merupakan orang pertama yang membuat catatan tentang kerajaan ini. Ia menceritakan pelayarannya pada 671 M dari Kanton ke Palembang, tempat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya waktu itu [1]. Dalam jangka waktu 24 tahun ketika I-Tsing berada di seberang laut, kerajaan itu sudah menjadi sangat kuat. Berdasarkan pengetahuannya tentang Indonesia yang diperolehnya sebelum kembali ke Cina pada 659 M, menurutnya Kedah di pantai barat Semenanjung Melayu selatan telah menjadi tanah jajahan Sriwijaya. Pada 775 M, kerajaan ini telah menjadi begitu terkenal sehingga penguasanya disebut “raja yang dipertuan dari Sriwijaya, raja tertinggi di antara semua raja di muka bumi [2].

Terdapat dua alasan bagi kajian ini, pertama sekalipun abad pertama dari sejarah Sriwijaya itu adalah abad yang paling kaya dengan dokumentasi dan merupakan satu-satunya abad yang diabadikan prasasti-prasasti Sriwijaya yang ada sekarang, yang dapat dikemukakan para sejarawan hanyalah sebuah gambaran tentang kekuasaan kerajaan ini pada masa itu. Sementara itu, pendapat-pendapat dan kebijakan-kebijakan para maharajanya tetap merupakan bahan yang tidak sahih. Alasan kedua adalah sebelum orang mengetahui lebih banyak tentang cara Sriwijaya berdagang pada permulaan pemerintahannya, kita tetap belum mengetahui latar belakang yang seharusnya untuk membuat tafsiran atas bukti yang ada dan sedikit tentang perdagangan negeri itu.

Untuk abad pertama sejarah Sriwijaya, seorang pengkaji memilih beberapa prasasti Melayu Kuno yang penting di Sumatra Selatan, khususnya Palembang dan Pulau Bangka. Prasasti-prasasti itu ditulis pada 682-686 M. Sebagai tambahan, kita dapat membaca karya I-Tsing, kemudian pada Hdin T’ang shu yang dihimpun pada pertengahan abad ke-11 dan terdapat pula rujukan dalam ensiklopedia Tse’fu yuan kuei dari awal abad ke-11 M tentang utusan-utusan ke Cina antara 702-742 M [3].

Dalam batas-batas yang sempit, sumber-sumber ini memberikan gambaran yang sangat konsisten tentang zaman awal Sriwijaya. Catatan-catatan I-Tsing dan ungkapan-ungkapan teknis dalam berbagai prasasti menunjukkan bahwa Raja Sriwijaya dipengaruhi kemungkinan besar agama Buddha Mahayana. Sriwijaya juga jelas memiliki banyak kapal; pada 672 M, I-Tsing berlayar dari Sriwijaya ke India dengan sebuah kapal milik seorang raja [4]. Sementara itu prasasti Kedukan Bukit dari Palembang bertahun 682 M menjelaskan suatu perjalanan yang menurut Prof.Coedes telah dilakukan raja sendiri [5]. Selain itu selama  bertahun-tahun terjadi perkembangan politik yang luar biasa. I-Tsing menuliskan bahwa Melayu di daerah Jambi di pantai tenggara Sumatra “sekarang Sriwijaya”.

Prasasti Kedukan Bukit
http://beritamusi.com/musi/berita/prasastisriwijaya.jpg


Satu petunjuk yang lebih pasti bahwa masa itu masa yang bergolak ada pada dalam prasasti-prasasti itu. Prasasti Telaga Batu yang tidak diketahui tahunnya dari Palembang, merupakan sumpah yang luar biasa panjangnya, diiringi dengan meminum “air kutukan”, yaitu air yang harus diminum oleh hamba raja untuk menjamin kepatuhan mereka [6]. Suatu bentuk singkatan dari sumpah itu terdapat dalam prasasti yang juga tidak bertahun, Karang Brahi, yang ditemukan dekat sebuah sungai di bagian tengah Sumatra selatan dan juga dalam Prasasti Kota Kapur yang ditulis pada 686 M dan dibuat di Pulau Bangka [7]. Prasasti Telaga Batu memaparkan daftar panjang tentang orang-orang yang berpotensi menjadi musuh atau mungkin musuh-musuh raja Sriwijaya yang sebenarnya, mulai dari “putra-putra raja” hingga tukang cuci dan budak-budak hamba. Selain itu, nahkoda-nahkoda dan pedagang juga dianggap berpotensi menjadi pengkhianat. Dalam prasasti Kota Kapur bertahun 686 M, disinggung juga soal peperangan yang akan dilakukan terhadap bhumi java yang belum tunduk pada kerajaan Sriwijaya, Dr. de Casparis menganggap bahwa seperti halnya sumpah yang keramat itu, peperangan ini merupakan sebagian dari usaha raja mempertahankan kerajaan yang baru dimenanginya.

Prasasti Karang Brahi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjetnk0uGTCEven-i-Ni87f4kkfqqRgS19D9oqHA__7ZlkEPGjWTJKbSQTVAA-widaEyN1gvnt4I3I2WAsFtMuLPsQLjVjZQmP3VrI8UVDyFn6aCH7CA5PDk5fvVt9aEUBwcwrrlYkpwXqJ/s1600/Foto0790.jpg

Akhirnya terdapat dua bukti yang jelas, sekalipun terdapat masalah-masalah politik seperti yang tercatat dalam prasasti-prasasti itu, pada pertengahan abad ke-18 M, kerajaan Sriwijaya telah berhasil menjadi sebuah kerajaan yang besar. Dalam buku Hsin T’ang shu dinyatakan bahwa “Srivijaya adalah sebuah kerajaan yang terbagi menjadi dua, dan kedua bagian kerajaan itu memiliki pemerintahan yang terpisah”.

“Kerajaan Barat” bernama Lang-p’o-lu-ssu yang biasa dipahami sebagai transkripsi dari “Barus” di sebelah utara Sumatra. Tahun terbentuknya kerajaan ini tidak diketahui, tetapi agaknya tidak mungkin sesudah 742 M, tahun terakhir dituliskan bahwa Sriwijaya mengirim utusan ke Cina sebelum permulaan abad ke-10, dan itu merupakan kali terakhir datangnya berita politik ke istana Cina dari Sriwijaya. Bukti lain yang telah disebutkan adalah Prasasti Ligor yang ditemukan di Semenanjung Melayu, bertahun 775 M. Di daerah yang sama telah ditemukan peninggalan-peninggalan arkeologi yang  telah menciptakan istilah “kesenian Sriwijaya”.

Dalam uraian Krom tentang faktor-faktor pendukung di Palembang, yaitu pelabuhan di Sumatra tenggara menguasai pelabuhan-pelabuhan lain di pantai itu dan juga di Selatan Malaka. Krom menyatakan letak geografis pelabuhan ini cocok sebagai tempat persinggahan dan pemunggahan barang-barang. Kelebihan ini digunakan oleh kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan yang terus berkembang antara India dan Cina. Krom juga menyatakan terdapat persaingan antara pelabuhan-pelabuhan yang memiliki keuntungan letak geografis ini. Menurut Krom, persaingan untuk menjadi kekuatan laut yang kuat di daerah ini  memerlukan kekuasaan yang kuat.



Ketidakjelasan faktor ekonomi dan politik yang menjadi latar belakang kebangkitan Sriwijaya menjadi hambatan dalam kajian tentang sejarah Sriwijaya pada periode selanjutnya dan disitulah masalah utama yang harus diperjelas demi mengkaji asal-usul kerajaan ini. Akhirnya penulis sadari betapa besar halangan ketika mengkaji Sriwijaya abad 10-11 M. Pada masa itu Sriwijaya yang sering mengirim kelompok perdagangan ke Cina, sedang berkonflik dengan orang Jawa dan Tamil. Kedua musuh itu menyatakan telah menyerang ibukota Sriwijaya pada 992 M dan sekitar 1025 M.

Kemudian tidak banyaknya penelitian tentang proto sejarah Sumatra, sedangkan kajian-kajian Sriwijaya cenderung memusatkan perhatian pada masa sesudah kunjungan I Tsing pada 671 M, alih-alih pada masa sebelumya.

Kajian tahap pertama dan sangat diperlukan dalam kajian tentang Sriwijaya adalah mengenal dengan pasti kerajaan ini dalam berbagai masalah seperti yang dihadirkan dalam beberapa tulisan tentang Asia yang berusaha memberikan cadre historique [kerangka sejarah]. Babak awal dalam proses penelitian adalah dari sumber Arab dan Cina. Lalu, pada 1918 Pof.Coedes dapat menyertakan bahwa nama kerajaan tersebut adalah “Srivijaya”[8]. Para sarjana Arab merupakan orang pertama yang menyadari hal itu, yaitu ketika Renaudot pada 1718 menerjemahkan sebuah teks Arab bertahun 851 M dan berhasil memaparkan adanya sebuah kerajaan bernama “Zapage” [9]. Melalui sebuah kajian tentang transkripsi kata-kata Sanskrit dalam bahasa Cina, Julien pada 1816 berhasil menunjukkan bahwa yang disebut Shih-li-fo-shih oleh I Tsing adalah Cribhoja [10]. Pada 1876, Groeneveldt menyamakan San-fo-ch’i, nama sebuah tempat pada zaman Dinasti Sung dan Ming, dengan sebuah pelabuhan di sungai Palembang dan menyatakan bahwa daerah itu adalah “Sarbaza”, yang pernah disebut para sarjana Arab pada abad ke-19 [11]. Pada 1883-1886, Beal, yang tertarik dalam permasalahan Buddha di Cina dan India, merupakan orang pertama yang menunjukkan suatu deretan sumber informasi yang kemudian dikenal orang sebagai sejarah “Srivijaya”. Ia melakukan penelitiannya dengan cara memperluas kesamaan nama-nama tempat.

Ia menerima pendapat Yule bahwa yang dimaksud dengan “Malaiur” oleh Marco Polo adalah Palembang. Menurutnya, I Tsing mengatakan bahwa “Mo-lo-yu” sama dengan Shih-li-fo-shih dan ia berpendapat bahwa shih-li-fo-shih sama dengan San-fo-ch’i, “Sarbaza” dan Palembang. Hasil penelitian ini sampai hari ini tetap menjadi kajian dasar tentang tata nama asing untuk Sriwijaya. Pada 1918, Prof.Coedes memberikan sumbangan yang berpengaruh ketika ia mengkaji prasasti Sriwijaya di Ligor dan menetapkan bahwa transkripsi Shih-li-fo-shih zaman T’ang itu adalah Sriwijaya bukan “Sribhoja”. Ia memusatkan perhatian pada prasasti-prasasti India dari abad ke-11 yang menyebutkan Sriwijaya. Dengan itu ia dapat memberikan uraian yang pertama tentang sejarah kerajaan ini, yang menurutnya berlangsung dari abad ke-7 hingga ke-13 M.

Kekurangan catatan tertulis tentang Nusantara sebelum abad ke-7 merupakan suatu kesulitan tersendiri, terutama karena ketiadaan prasasti-prasasti di Sumatra. Dalam kajian ini, Sumatra merupakan tempat yang lebih ditekankan. Meskipun begitu, kekurangan bukti atau peninggalan sejarah Sumatra disebabkan belum dilakukannya penggalian arkeologis yang lebih menyeluruh, terutama mengenai pendapat tentang lokasi pantai yang berperan besar dalam perdagangan luar negeri sebelum kebangkitan Sriwijaya.

Kesimpulan utama yang dapat dibuat dalam kajian tentang Indonesia masa awal ini adalah adanya dua tahap waktu yang dapat dibedakan pada pada abad ke-7 M. Tahap pertama, sampai abad ke-3 M, Nusantara bagian barat belum berdagang dengan Cina. Tahap kedua, perdagangan antara Cina dan Nusantara telah berlangsung pada awal abad ke-5 M. Kerangka kronologi ini mungkin penting dalam membantu kajian-kajian yang akan dilakukan tentang Indonesia masa awal.


Catatan:

[1]. E. Chavannes, Memoire compose a l’epoque de la grande dynastie T’ang,hlm: 119.
[2]. Terjemahan G.Coedes dari bahasa Sanskrit atas sisi A Prasasti Ligor, “Le royaume de Crivijaya”, BEFEO, 18,6 (1918) hlm:31.
[3]. Lihat tulisan Coedes, “Le royaume de Crivijaya”; G.Ferrand, “L’empire sumatranis de Crivijaya”, JA, 20 (1922),hlm:1-104,hlm:161-246; K.A.Nilakanta Sastri, History of Srivijaya; J.G. de Casparis, Prasasti Indonesia,II,hlm:1-46. Untuk tahun yang sudah ditinjau ulang dari Prasasti Kedukan Bukit (682 M) lihat L.C.Damais, “Etudes d’Epigraphie Indonesienne,III,Liste des principales inscriptions datees de l’Indonesie”,BEFEO,46 (1952), 98.
[4]. Ta T’ang his yu ch’iu fa kao seng chuan, Taisho tripitaka, edisi 1, no.2066,7c-8a.
[5]. De Casparis, Prasasti Indonesia, II,hlm: 12-13.
[6]. ----------------------------,hlm: 11-19.
[7]. Lihat salah satunya Coedes, “Les inscriptions malaises de Crivijaya”, BEFEO, 30 (1930),hlm:29-80.
[8]. Coedes, “Le royeume de Crivijaya”.
[9]. E. Reinaudot, Anciennes relations des Indes et de la Chine,hlm:75-78. Teksnya berjudul Ahbar as Sin wa’l-Hind, yang diterjemahkan I.Sauvaget pada 1948.
[10]. J.T.Reinaud, Relations des voyages faits parles Arabes et les Persans dans l’Inde.
[11]. S.Julien, Methode pour de chiffer et transcrire le noms Sanscrits,hlm:10, no. 299.
[12]. W.P.Groenveldt, Notes on the Malay Archipelago and Malacca,hlm:76.



O.W. Wolters (2011)
Kemaharajaan Maritim Sriwijaya dan Perniagaan Dunia Abad III-Abad VII
Depok: Komunitas Bambu
Hlm:1-18

1 komentar: