Senin, 22 April 2013

Interpretasi Prasasti



Machi Suhadi


Kajian Prasasti

Prasasti dari bahan apapun termasuk golongan artefak. Sebagai artefak, prasasti juga menyimpan peran dan fungsi khusus sehingga interpretasinya dapat dibatasi pada beberapa hal seperti bahan, tempat asal dan teksnya. Prasasti berasal dari jaman sejarah dimana manusia sudah berada pada tahapan literate culture sehingga kronologi historisnya dapat diketahui dengan pasti, paling tidak dalam hitungan abad. Analisis bahan prasasti dan pembuatannya tidak lagi menjadi perhatian para peneliti epigrafi. Kajian tentang prasasti lebih diarahkan kepada teks yang menyangkut pembacaan, transkripsi ke aksara Latin, terjemahan dan usaha memahami misi apa yang dikandung dalam teks prasasti. Adapun ekofak yang diperhatikan ialah hubungan antara isi prasasti dengan tempat temuan prasasti, dengan masyarakat sekitarnya, dan lain-lain, apakah ini cocok atau tidak cocok. Jika hubungan itu tidak cocok, apakah telah terjadi perubahan antara tempat asal prasasti dengan tempat temuan sekarang, atau memang telah terjadi perubahan nama secara administratif setelah peristiwa bersejarah itu berselang ratusan atau ribuan tahun. Semua ini harus dikaji dengan teliti dan saksama serta hati-hati.


Hambatan dalam Kajian Epigrafi

Dalam kajian epigrafi ada dua jenis kegiatan yang dapat disatukan atau dapat dipisahkan. Kegiatan pertama ialah melakukan pembacaan, membuat transliterasi atau transkripsi ke aksara Latin dan membuat terjemahan dari bahasa Kuno ke bahasa sekarang. Kedua, pekerjaan lanjutan berupa pembuatan interpretasi sosial budaya dan menempatkan kronologi historisnya. Kebanyakan orang memilih menjadi interpreter, jadi menunggu hasil transkripsi dan terjemahan orang lain. Pekerjaan pertama termasuk sulit karena orang harus menguasai bentuk-bentuk aksara kuno dan mengetahui bahasa-bahasa kuna.

Berbagai hambatan yang dihadapi epigraf adalah:

  1. Tulisan atau aksara tidak jelas karena aus, rusak atau hilang. Jika bagian kata atau kalimat yang rusak/hilang adalah kata atau kalimat kunci, maka setiap kesalahan pembacaan akan mengakibatkan kesalahan pengertian.
  2. Bahasa kuna tidak mengenal tata kalimat (sintaksis) dan pemenggalan antarkata tidak jelas. Jika pemenggalan kata pada transkripsi salah, maka artinya akan berubah. Selain itu kata-kata dalam prasasti dapat ditafsirkan secara harafiah dan secara simbolik. Contoh: korban ggo sahasra pada prasasti Kutai (abad ke-5 M) dapat ditafsirkan sebagai jumlah 1000 ekor sapi dan dapat pula diartikan secara simbolik untuk menyatakan jumlah yang besar.
  3. Bahan prasasti. Jika bahannya keras akan mudah dikenali jika bahannya lunak (seperti lontar atau kulit kayu) maka hal itu sulit diidentifikasi.
  4. Keaslian sumber. Semua prasasti yang ada biasanya dinyatakan sebagai barang asli kecuali ada kata-kata “tinulad” (disalin”. Tetapi apakah yang dianggap asli itu memang benar-benar asli? Sebagai contoh, di kantor Pusat Arkeologi dan di Museum Nasional ada satu lempeng prasasti Mula Malurung (tahun 1255 M) yang pemenggalan kalimatnya berbeda. Diduga bahwa dahulu prasasti dalam wujud lontar disalin ke dalam lempeng tembaga oleh lebih dari satu orang sehingga hasil pahatannya berbeda. Atau prasasti tembaga yang ada disalin lagi pada waktu yang lain sehingga hasilnya berbeda.
  5. Tenaga peneliti. Saat ini jumlah tenaga pembaca prasasti sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah prasasti yang ada dan tersebar di Sumatra, Jawa, Bali, kalimantan hingga ke pulau Sumbawa.


Analisis Prasasti

Prasasti sebagai bagian dari sumber tertulis dapat dianalisa dari jenis sumber, manfaat sumber, permasalahan, pengerjaan dan cara analisisnya. Rincian hal tersebut berikut:

Jenis sumber tertulis
Prasasti
Naskah
Arsip
Dan lain-lain (medalion, uang, kaligrafi, hiasan)

Manfaat sumber tertulis
Sumber keterangan
Sumber rujukan

Permasalahan
Ketidakjelasan
Aksara dan bahasa
Bahan
Keaslian
Tenaga

Pengerjaan
Linguistis
Filologis
Epigrafis
Orthografis/palaeografi

Cara analisa
  • Formal:

Deskriptif
Komparatif

  • Konstekstual:

Identifikasi
Interpretasi

  • Fungsional:

Tujuan penulisan
Tempat penulisan
Pelaku penulisan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcNVAzZyLVYErwGpT3VRcEVPrnlYiO_eDBJauVHvUMCZutqBopS8u9NcrdNdI3-3RhDd9D-17UIMRu8Mj1iPnVAIDSwGlvsIx9aR5C7X9JcdFfWTDaKVjh2rTwYYmw4DUDftdElUSVJU8/s1600/Prasasti+Sipater.jpg


Interpretasi Prasasti

Epigrafi menggarap semua unsur yang berkait dengan prasasti, baik bahannya, tempat asal, tulisan, sosial budaya masyarakat sekitar, dan lain-lain. Interpretasi adalah usaha untuk mencari hubungan (benang merah) antara apa yang tertulis dan apa yang tersirat dengan hal-hal yang terjadi di lingkungan masyarakat yang sezaman yang diduga memiliki konotasi dengan isi prasasti tersebut. Peristiwa sejarah yang terjadi disekitar wilayah kekuasaan, tempat prasasti ditempatkan, sering menjadu unsur penentu untuk menarik benang merah tersebut.

Contoh:
Pada tahun 1286 M, Raja Kertanegara dari Singhasari (Jawa Timur) mengirim arca Amoghapasha kepada Raja Tribhuwana Mauliwarmmadewa di Kerajaan Malayu dan diterima dengan sukacita oleh keluarga raja dan rakyat Malayu. Pada masa itu Kertanegara sedang bertentangan dengan Kublai-Khan dari Cina yang sedang melakukan ekspansi ke Asia Tenggara. Kita memberi tafsiran bahwa pengiriman arca Amoghapasha ke Tanah Malayu merupakan manuver politik Kertanegara untuk mencari dukungan raja Malayu. Usaha persatuan Nusantara ini nanti dilanjutkan oleh raja-raja Majapahit pada abad ke-14 M.

Interpretasi epigrafi dimulai setelah pekerjaan terjemahan selelsai disusun. Pekerjaan ini memerlukan semua unsur yang terkandung di dalam teks prasasti yang dihubungkan dengan segala sesuatu yang berada di luarnya. Interpretasi prasasti selalu mengikat lingkungan prasasti, khususnya masyarakat di zamannya ditambah lingkungan alam dan geopolitiknya. Peneliti epigraf juga melihat seluruh prasasti dari zaman yang terkait dan menelaah peristiwa-peristiwa lain yang terjadi dari zaman yang sama di lokasi yang berkait serta tradisi yang berlanjut ke masa kini. Karena itu kajian epigrafi sangat memerlukan kajian arkeososiologi dan arkeolinguistik. Kesulitannya juga ada, antara lain bahwa penulis atau penafsir prasasti berada pada zaman yang jauh atau berbeda dengan zaman saat prasasti dibuat. Untuk pekerjaan itu  memang diperlukan keberanian dalam menulis atau menyusun interpretasi, lebih-lebih jika masyarakat setempat mengeluarkan prasasti tersebut. Jadi pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-hati.





Machi Suhadi (2003)
"Interpretasi Epigrafi", dalam Cakrawala Epigrafi: Persembahan untuk Prof.Dr.Mundardjito, R.Cecep Eka Permana,dkk (Peny.), Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
Hlm: 127-134


Tidak ada komentar:

Posting Komentar